so long for sacrifice

Wednesday, 20130814 00:38

“Like an Angel” katanya

Dinginnya angin tak sehangat senyumanmu, tadi!

Aku ingin memelukmu lagi, lagi, dan lagi

Walau hanya dalam angin malam yang menelisik tidurku

Tanpa mimpi

Tanpa igauan

Tanpa isakan

Bahkan tanpa kedipan hatiNya

Selalu…

Senyum dalam pasnya angan

Mimpi dalam pasnya senyum

Duh… bertahan atau menyerah?

 

*mbulet dah 😥

Amin!? 

Haruskah?

Friday, 20121102 1:58

Wangi Melatimu masih sangat segar dalam ingatan penciumanku. Kapan kau akan menemuiku kembali? kerinduan ini masih belum terobati. Senja pun tak mampu menghiburku kali ini. Ya Rabb.. akankah ini kembali kepada titik nol? Aku adalah wanita di titik delapan. Air kehidupan sungai bintangku juga surut. pendar kerlipnya tak menyilaukan mata lagi. Semuanya terlalu abu-abu. Hitam enggan tapi putih juga menjauh. “Sayu” ucap beberapa lidah di sekelilingku. Haruskah aku masih mengingkari nikmat-Mu hingga hari ini? Alhamdulillah Ya Rabb 🙂

Selalu

Friday, 20120817 17:08

Kenapa Ya Rabb? Ancaman dan kekasaran yang selalu aku terima. Kemana sisa ketulusan dari pancaran matanya? Kuatkan aku. Amin!? 

Engkau memberi yang kita butuhkan bukan yang kita harapkan Ya Rabb. Aku percaya itu. Aku akan selesaikan perasaan ini dan mengabaikan semuanya. Aku akan tetap berusaha dan terus berusaha demi Engkau dan mereka Ya Rabb. Enyahkan airmata kesedihan ini. Semuanya tak pantas menghampiriku saat ini. Aku yakin Kau selalu bersamaku kan Ya Rabb? 🙂

Buliran airmatanya masih membekas di pelupuk mataku. Peluk dia Ya Rabb! Sehatkanlah dia Ya Rabb. Haruskah aku mengurangi sisa umurku demi mereka? jika memang itu yang Kau butuhkan. Ambil Ya Rabb. Ambil saja, aku akan diam di sini menunggu mereka tersenyum untukku. Selalu 🙂

Percuma jika aku terus mengeluh Ya Rabb. Tolong Ya Rabb. Singirkan luka ini dari diriku. Aku tak mau dia terbuka dari rajutannya lagi. Aku tak mau!

Senja masih terasa mengesankan sekaligus menyedihkan di ufuk barat sana. Mengajak burung untuk menghampirinya setiap dia ingin berlalu seakan-akan senja ingin ditemani oleh burung itu. Aku juga ingin ditemani oleh-Mu Ya Rabb. Selalu!? Amin..

Sumpah

Sunday, 20120617 23:18

Jangan kau kenakan lagi pakaian itu

Tak malukah kau pada lidahmu?

Selalu saja memakai namaNya

Hei.. Kau itu siapa? 

Aku butuh dirimu? iya

Tapi ketika semuanya dari diriku tak dihargai

Aku diam? harus

Aku mohon, bantu aku untuk membangun tembok kepercayaan yang selalu kau robohkan. Aku tak butuh semua terlihat sempurna tapi aku butuh dirimu sempurna di hatiku. orang lain? biarkan saja.

Ya Rabb.. kapan dia akan berubah? kapan dia akan mengakuiku di hadapanMu? ijinkanlah kami. Amin!?

Kelebatnya selalu menyertaiku, aku melilit rinduku untuknya. semoga tak berakhir tragis. Peluk dia di tempatMu Amin

🙂

 

Ikutilah

Thursday, 20120531 17:48

Kau bangun lagi pondasi kebohongan yang telah kuhancurkan, kenapa? Apakah aku masih tak berharga di hatimu? Kapan? Selalu pada akhirnya kau yang memutuskan bahwa akulah yang bersalah padahal sebenarnya dirimulah yang sepenuhnya salah. Dimana? jumlah kesadaran yang kau gali itu belum cukup untuk menyadari keberadaanku, ya? Dari sudut mana kau dapat menghargaiku secuil saja? Semua permainan bagi kita DIA yang hanya berhak atas kita. Amin 😦

Hah..

Saturday, 20120519 00:38

Hanya waktu yang belum dapat aku bawa ke hadapan-Mu. Ijinkan aku membawanya kelak. Aku pasti bisa karena aku mau melakukannya, ya? Tak perlu aku bertanya, Tak perlu juga menjawab. Rasa.. Ya hanya rasa yang dapat aku rasakan di sini, di sana, di tempat-Mu, di tempatnya, di tempat mereka, dimanapun itu!? Amin..

*ngemil wijen

Kalung Embun

Saturday, 20120512 00:48

“Kamu kenapa sih? Sumpah tidak ada apa-apa yank!”

Aku terus terbawa emosi hingga naik ke ubun-ubun menghakiminya tanpa ampun hingga suatu waktu aku berhenti dan menyesal atas emosiku yang tak terkendali. Maafkan aku Pey! Ini bukan aku yang sebenarnya ini aku yang berubah sejak kesadaranku akan kebingungan yang melanda. Aku tak bermaksud mengetukkan palu di meja hijaumu. Aku hanya bingung mau bertindak apa? Aku masih merasa sendirian pey, masih belum menyadari arti penting orang-orang di sekelilingku. Ya Rabb.. Aku mohon maafkan aku Amin!? 

Ilalangku enggan tumbuh dalam sapuan cahaya matahari pagi, ia lebih melindungi lumut yang kelihatan lemah di ujung batu sana. Nisanku tak ditumbuhi ilalang tapi aku tak butuh duri seorang mawar atau wangi seorang melati. Aku hanya butuh dirimu bunga bambuku yang terlilit ilalang. Mengertilah…

Aku tak merasa lelah sekalipun kau cabik-cabik leherku wahai kalung, tak merasakan aliran darahku yang mengucur deras melewati dada dan punggungku, tak merasakan apapun tentang keberadaanmu di sana, melingkar erat tak terkalahkan oleh waktu sekalipun. 

Aku hanya ingin menikmati keindahanmu seorang diri bukan dengan kamu, dia, mereka atau kalian. Bahkan aku akan melarangmu memuji keindahan kilaumu sendiri. Tak pantas kau lakukan itu hei kalung..      Kita akan terus selalu bersama bukan? Keindahanmu hanya untukku seorang, Harus itu!? 

Hal yang tak mungkin aku lepas tapi aku dapat memetik helai demi helai keajaiban dari petal bunga kenanganku selama ini menyatu dalam bilik kediaman yang tak seorangpun tahu keberadaannya. Antara kita saja kan Ya Rabb? Jangan Kau lepas pelukan-Mu lagi, aku juga tak mau Kau melonggarkannya. Tampar aku hingga terpental jauh ke dalam ambang kesadaran yang beradab. 

Sepotong bulan menggantung di langit timur menerangi senyumku yang memelukmu

*Tersenyum bahagia

Ada

Wednesday, 20120502 03:38

Kau selalu ada dalam kerajaan hitamku yang pongah dan pada akhirnya menjerit histeris dengan tetesan air mata yang mengalir deras. Dapatkah aku mengulanginya lagi? Oh ayolah ijinkan aku sekali lagi untuk berlari tanpa terjatuh. Diri-Mu, Dirinya dan Aku, hanya kita bertiga yang tersimpul. Ini tidak menyedihkan, bukan, bukan hal yang membuat orang terharu. Aku hanya ingin bernyanyi tanpa suara atau ketukan. Dia pasti mengerti dan akan selalu mengerti arti rasaku pada-Nya. Jarak. Waktu. Keheningan. Entah apalagi yang berada diantara kita? Ada, Sesuatu yang selalu Dia tunjukkan kepadaku dan dia. Nyata. Terkadang lewat tetesan hujan yang merembes dari atap menara, terkadang lewat jembatan angin yang dibangun dalam badai, bahkan terkadang juga hadir dalam sinar mentari yang menguapkan embun pagi. Malah sering terlihat dalam kedua pelupuk mataku yang tak dapat melihat bunga bermekaran. Aku bermandikan bintang yang dilumuri susu dalam setiap loncatan rasi di langit buatan-Nya. Arah sungai bintang tetap dari Tenggara hingga Barat Laut. Kau masih ada bukan? dia mungkin mencari-Mu, begitu juga aku yang selalu merasakan-Mu. Di sini dalam dunia yang seketika ‘BUM’ oleh perintah-Mu. Mampukah aku menjaga semuanya? Aku merindukan itu. Kekuatan yang teramat dahsyat melingkupiku sekarang dan selamanya. Amin 🙂

Beberapa Waktu

Fri, 20120427 03:48

Memapah kerinduan tanpa tahu harus berucap kata

Kau berkata “Peluk.. peluk.. peluk..!”

Aku terlelap dalam waktu bersamamu 

Entah berapa waktu lagi kita bersama dengan-Nya

Aku tak mau menepi karena lelahku

Aku harus terus maju dan menunduk

HARUS!?

Karena aku mau itu

🙂

 

 

Isya’ku

Wed, 20120418 22:38

Rekahan melati di ufuk barat

Tak berkutik kala air menunggu

Embun tersisa di tiap petalnya 

Selalu merah yang tersisa

“Bukankah warnaku putih?” Tanya Melati

“Iya tapi angin yang membuatmu merah” Jawab Air

Adzan menerobos pendengaran

“Hai Kalian. Mari bersamaku mewarnai pelangi” Ajak Waktu

Air di pucuk Melati hanya diam dan perlahan menggulirkan dirinya untuk mencium Bumi

Tanah merentang dan memeluk 

Cacing menggeliat menghirup Air yang tersisa

Pelangi berkata “Kemana warna-warnaku?”

Kesadaran dalam emosi tetap tidak berguna 

Tetap seperti abu terbang terkena angin

Wuuuuusssssh

Hilang tak berbekas

“Hariku tak nyaman” Teriakku

Kenapa mengeluh dan marah?

Abaikan lalu tutup dan rusak kenop hatiku

SEGERA!?

Hanya untuk-Nya buliran airmataku

Bukan untuknya yang sering memerahkan Melatiku

Astaghfirullah..

Melati tetap tak beranjak dari ufuk barat

Semoga Mawar tak melucuti durinya 

Amin 

🙂